Mengenai Saya

Foto saya
Ingin memberi makna bagi banyak orang, melalui talenta yang telah Tuhan berikan. Mengisi kehidupan dengan mengajar, training, melulis buku, konsultan manajemen, talkshow di radio, TV, pembicara di berbagai event, seminar, konseling, dan pelayanan.

Selasa, 27 Desember 2016

We could do great things, when we were not so busy doing little things.


Mungkin banyak orang tahu bagaimana lezatnya kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. 

Semoga kita tidak memiliki sifat seperti kepiting yang......

Masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap kepiting, biasanya lalu mereka tempatkan dalam baskom. Yang paling menarik dari kebiasaannya, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun seorang penangkap kepiting tetap tenang, karena ia tahu sifat kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun! Dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Begitu pula dalam kehidupan ini, tanpa sadar ada orang yang  mempunyai sifat seperti kepiting. Ketika salah satu teman mengalami kesuksesan, seharusnya gembira dan didukung. Namun kadang yang terjadi justru sebaliknya, yaitu merasa tidak senang, dan malah mencurigai jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan cara yang tidak benar, berusaha mencari-cari kesalahannya, dan lain sebaginya.

Mari kita selalu mengembangkan diri, karena prestasi tidak hanya ditandai dengan kemenangan  materi, tetapi bagaimana kita mampu memenangkan diri melawan sifat-sifat yang buruk yang menguasai kita.

Semoga anda tidak mempunyai salah satu dari sifat-sifat ”kepiting” berikut :
*     Merasa tidak nyaman dengan keberhasilan orang lain.
*     Lebih banyak mengkritik dari pada membangun.
*     Hobi membicarakan kejelekan orang lain.
*     Banyak menyalahkan tetapi tidak melakukan tindakan perubahan positif.
*     Lebih senang menggaris bawahi kelemahan orang lain.
*     Pelit memberikan pujian.
*     SMS (Senang Melihat orang lain Susah atau Susah Melihat orang lain Senang)
*     Pintar mencari kesalahan orang
*     Dan lain sebagainya.....pastilah anda tahu sendiri. 

Semoga menjadi perenungan bagi kita semua untuk pengembangan diri, agar kita tidak memiliki karakter seperti kepiting. We could do great things, when we were not so busy doing little things.









Jumat, 16 Desember 2016

SANG PEMBELAJAR. Catatan dari Penyunting Buku Biografi Noegroho Boedijoewono

Malam merangkak larut, saya masih di depan laptop untuk menuliskan catatan yang terakhir dari buku ini. Setelah semuanya selesai, saya diam dalam sebuah perenungan. Teringat beberapa waktu lalu, ketika saya dipanggil oleh pak Noegroho di ruang kerjanya, dan beliau menyampaikan keinginannya untuk menulis buku biografi. Saya langsung menanggapi dengan menawarkan diri untuk membantu menyuntingnya.

Betapa banyak pelajaran yang bisa diperoleh dalam kehidupan bagi sang pembelajar. Setiap pergumulan hidup merupakan proses belajar  yang sangat baik. Betapa banyaknya guru-guru kehidupan bagi sang pembelajar. Jika kehidupan adalah kampusnya, maka setiap persoalan adalah mata kuliah yang harus diselesaikan.  Semakin banyak persoalan yang diselesaiakan maka semakin pinter dan semakin bijaksanalah  manusia pembelajar tersebut. Pak Noeg adalah sosok pembelajar.

Ada quote yang pernah saya baca, begini “Orang hebat melahirkan banyak karya-karya bermutu, sedangkan guru melahirkan ribuan orang hebat”.  Dalam renungan  saya, Pak Noegroho bukan hanya guru yang telah melahirkan ribuan orang hebat, tetapi Pak Noeg telah mendirikan STIM YKPN sebagai wadah para guru melahirkan jutaan orang hebat. Waow....ini sangat luar biasa. Sebuah multiplier effect yang dampaknya sangat besar.

Tidak terbayangkan sebelumnya, bagaimana 41 tahun yang lalu, seorang pemuda bernama Noegroho, berjuang keras untuk berusaha mewujudkan impiannya yang mulia, membantu banyak orang yang pingin kuliah tetapi tidak punya cukup uang, sementara kampus yang murah hanyalah Perguruan Tinggi Negeri, dan tidak semua orang bisa tertampung  di sana. Dari situlah hasrat hatinya membara, bagaimana mendirikan kampus yang biayanya murah, tetapi kualitasnya sama dengan UGM. Maka dengan perjuangan kerasnya, terwujudlah pada tanggal 1 Januari 1976, bersama dengan pak Gun dan Pak Hey, berdirilah kampus  AMP YKPN, sebuah Perguruan Tinggi Swasta super sederhana, yang biaya kuliahnya murah,  tapi hampir semua dosennya dari UGM.

Belum merasa cukup pengabdiannya dengan menjadi dosen UGM, pendiri AMP YKPN, menjadi pembina YKPN, beliau juga mendedikasikan dirinya sebagai anggota DPRD Provinsi DIY. Untuk menyumbangkan hasil-hasil pikiran terbaiknya bagi dunia pendidikan, beliau menulis beberapa buku yaitu, buku statistik 1 (deskriptif), buku statistik 2 (induktif), buku statistik untuk SMEA dan Sederajat yang telah digandakan ratusan ribu eksemplar, buku perkembangan AMP – STIM YKPN dalam 4 dasa warsa, dan sekarang pada usia yang sebentar lagi, pada 14 Desember 2016 genap 77 tahun, pak Noeg masih sangat produktif dengan menulis buku otobiografi ini. Buku ini berisi perjalanan panjang dan pengabdian dari Pak Noegroho, yang akan menjadi kenangan bagi keluarga, dan menjadi inspirasi bagi kita semua, bagaimana mewarnai dunia dengan menghasilkan karya-karya nyata bagi banyak orang.

Pelajaran yang sangat berharga bagi saya, dalam proses mengerjakan penyuntingan buku ini. Bahwa kualitas kehidupan, tidak ditentukan oleh apa yang sudah diraih, tetapi seberapa besar hidupnya telah bermakna bagi sesama. Itulah sosok pak Noeg yang telah mengisi kehidupan dengan memberikan dampak nyata bagi kehidupan orang lain. Rasa bahagianya mengalir bagaikan sungai yang tidak pernah kering, bukan karena harta bendanya, melainkan kebermaknaan hidupnya bagi sesama. Pada tataran kehidupan seperti itu, seseorang tidak lagi mencari apa-apa. Yang ingin dilakukan adalah memperbesar kapasitas pengabdiannya, mengabdi pada Sang Khalik , Sang Pencipta Kehidupan.  Sebagai bentuk syukur atas seluruh anugerah kehidupan yang telah diterimanya,  di hari tuanya, Pak Noeg mempersembahkan dirinya untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan, dengan menjadi hamba dan melayani banyak orang.

Waoow...., tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, saya masih di depan laptop, dan masih sangat segar karena rasa gembira. Betapa bersyukurnya saya bisa diberi kesempatan untuk menyunting buku ini. Terimakasih pak Noeg, bapak telah mewariskan bagi kami pelajaran tentang kehidupan yang sangat berharga. Kiranya Tuhan selalu menyertai pak Noeg sekeluarga dengan KasihNya yang berlimpah-limpah.  Amin.
Sembah sungkem  kagem pak Noeg.

Penyunting buku
ttd

MC Maryati